Profil Desa candi bandungan

Candi bandungan

Profil Desa candi

Desa Candi merupakan bagian dari Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang. 
Desa candi terdiri dari 9 dusun yang memiliki nama unik, 
yaitu Kalibendo, Ngonto, Candi, Ngablak, Tarukan, Talun, Nglarangan, Ngipik, dan Darum.
 Memiliki luas wilayah1.082,29 Ha dengan kondisi tanah dataran tinggi pegunungan. 
Penggunaan lahan terbesar adalah Sektor Pertanian sehingga sebagian besar penduduk
 bekerja sebagai petani atau buruh tani.
Desa Candi memiliki banyak potensi yang bisa dikembangkan untuk menjadikan 
Desa Candi sebagai desa wisata, beberapa potensi tersebut antara lain:

   Potensi pariwisata : Candi Gedong Songo, Candi Asu
·         Potensi pertanian : Sayur, Bunga
·         Potensi peternakan : Sapi, Kelinci, Kambing
·         Potensi usaha rumah tangga :

          Onde-onde ketela ungu, Ice Cream ketela ungu, anyaman bambu
·         Potensi kesenian : Reog


kawasan desa candi Rt.04
kuwi bapaku


Candi Asu Bandungan


Lokasi Candi ini masih jarang orang yang mengetahuiya, secara persisnya candi ini berada di Dusun Candi Desa Candi Kecamatan Bandungan Kabupaten Semarang. Yang keberadaannya berada di samping area pemakaman dusun Dusun. Peninggalan kuno ini akhir - akhir ini mulai diperhatikan oleh pemerintah dengan adanya pembangunan di sekitar area Candi.

KKN TIM 1 UNDIP 2015 Di Desa Candi

KKN wajib dilaksanakan oleh seluruh mahasiswa UNDIP Semarang. Desa Candi menjadi salah satu desa di Kecamatan Bandungan yang dijadikan tempat KKN Tim I UNDIP 2015. Tujuan utama yang ingin dicapai oleh Tim KKN adalah untuk memajukan Desa Candi sesuai dengan kemampuan yang dimiliki oleh masing-masing anggota tim dan memecahkan masalah yang ditemui dilapangan. Selain itu juga untuk mengenalkan Desa Wisata Candi kedunia luar. Selain memiliki potensi wisata yang menarik, wisata kuliner juga warganya yang ramah.
TIM berasal dari berbagai jurusan dari 3 fakultas yaitu Fakultas Teknik, Fakultas Peternakan dan Pertanian, dan FISIP. Tiap anggota akan menjalankan masing-masing program kerja sesuai bidang keahliannya, selain itu tim juga mengikuti berbagai kegiatan bersama dengan warga.

Anyaman Bambu Untuk Tempat Pisang Dan Bunga

Disalah satu dusun di Desa Candi memiliki potensi kerajinan anyaman bambu. Anyaman bambu yang dibuat adalah untuk tempat wadah dari pisang yang biasanya dijual dipasar. Namun disaat tertentu seperti bulan Ramadhan diproduksi juga anyaman bambu yang lebih kecil yang digunakan sebagai tempat wadah bunga. Biasanya bahan yang digunakan adalah bambu petung, apus dll.
Hasil anyaman akan dipasarkan diluar daerah, dan sudah ada pengepul yang akan mengambilnya.

Bunga Sebagai Oleh-Oleh

Karena mayoritas pekerjaan warga Desa Candi adalah petani sayur dan bunga, maka hasil panen bunga dan sayur juga sangat besar. Di Desa Candi sendiri hampir ditiap-tiap dusun memiliki kelompok tani sendiri. Bunga yang dihasilkanpun beragam, namun kebanyakan adalah bunga krisan dan mawa dan hasil panen akan dikirim keluar wilayah, begitu juga dengan sayur mayurnya.
Terdapat pula tempat pasar bunga yang menyediakan beragam bunga yang tentunya 
bisa dijadikan sebagai oleh-oleh.

Wisata Kuliner Sate Kelinci Di Candi Gedong Songo

Tak lengkap rasanya jika mengunjungi Candi Gedong Songo tanpa terlebih dahulu mencicipi sate kelinci.
Di kawasan objek wisata Candi Gedong Songo banyak kios yang menjadikan sate kelinci 
sebagai hidangan andalan. Peternakan kelinci di 
Desa Candi memang tidak sebesar peternakan yang sapi dan kambing, karena memang peternakan 
di Desa Candi didominasi dengan kambing dan  sapi.

Daging yang digunakan dalam sate kelinci ada yang merupakan hasil ternak sendiri tapi ada juga yang mendapatkan kelinci dengan membelinya dipasar. Sate kelinci dapat dinikmati bersamaan dengan nasi atau lontong, ditaburi dengan sambal kacang tentu akan menggoyang lidah. 
Seporsi sate kelinci dan nasi biasanya berkisar di harga Rp. 20.000,-.

Aneka Makan Hasil Olahan Ketela Ungu


Desa Candi yang memiliki lahan yang subur dimanfaatkan oleh warga untuk bercocok tanam bunga dan sayur. Hasil panen kebanyakan akan dijual keluar wilayah, tapi ada juga yang diolah sendiri oleh warga, salah satu contohnya adalah ketela ungu. Hasil bumi yang satu ini telah dikreasikan oleh warga menjadi berbagai makanan yang kreatif dan inovatif. Salah satu yang melakukan pengolahan adalah Kelompok Pengolahan Hasil Pertanian "Mitra Lestari" yang berada di dusun Kalibendo. Beberapa hasil olahan ketela ungu tersebut adalah onde - onde, ice cream dll.
Produk hasil industri rumahan ini biasa dipasarkan di Pasar Sumowono.
Produk makanan menggunakan bahan-bahan yang aman dikonsumsi, dan ketela ungu yang digunakan sebagai bahan juga memberikan keunikan tersendiri karena memberikan warna alami pada makanan.

Candi Gedong Songo


Candi Gedong Songo berada di lereng Gunung Ungaran, tepatnya di Candi Gedongsongo, Dusun Darum, Desa Candi, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang dan kompleks candi ini dibangun pada abad ke-9 Masehi. Gedong Songo berasal dari bahasa Jawa, “Gedong” berarti rumah atau bangunan, “Songo” berarti sembilan. Jadi Arti kata Gedongsongo adalah sembilan (kelompok) bangunan. Lokasi 9 candi yang tersebar di lereng Gunung Ungaran ini memiliki pemandangan alam yang indah. Di sekitar lokasi juga terdapat hutan pinus yang tertata rapi serta mata air yang mengandung belerang. Kabut tipis turun dari atas gunung sering muncul mengakibatkan mata tidak dapat memandang Candi Gedongsongo dari kejauhan. Candi ini memiliki persamaan dengan kompleks Candi Dieng di Wonosobo. Candi ini terletak pada ketinggian sekitar 1.200 m di atas permukaan laut sehingga suhu udara disini cukup dingin.  Untuk menuju ke Candi Gedong I, kita harus berjalan sejauh 200 meter melalui jalan setapak yang naik. Anda bisa memanfaatkan jasa transportasi kuda untuk berwisata mengelilingi obyek wisata Candi Gedongsongo. Tahun 1740, Loten menemukan kompleks Candi Gedong Songo. Tahun 1804, Raffles mencatat kompleks tersebut dengan nama Gedong Pitoe karena hanya ditemukan tujuh kelompok bangunan. Van Braam membuat publikasi pada tahun 1925, Friederich dan Hoopermans membuat tulisan tentang Gedong Songo pada tahun 1865. Tahun 1908 Van Stein Callenfels melakukan penelitian terhadapt kompleks candi dan Knebel melakukan inventarisasi pada tahun 1910-1911.