Pengusaha Tokek Beromzet Miliaran Rupiah

Davied Hendra, Pengusaha Tokek Beromzet Miliaran Rupiah



Jum'at, 11 Desember 2009, 04:34:00
USAHA - David Hendra bersama sekandang tokeknya (kiri), serta tokek dalam kandang.
Foto: Baskoro Septiadi/Radar Semarang/Internet. Montase: Arsito/JPNN.
Mungkin tak banyak yang menyangka bahwa tokek ternyata bernilai jual tinggi. Bahkan, hewan yang sefamili dengan cicak itu, telah menjadi komoditas ekspor yang sangat menjanjikan, karena omzetnya bisa mencapai miliaran rupiah.
Laporan BASKORO SEPTIADI, Semarang
Tak percaya? Bertanyalah kepada David Hendra. Pria 52 tahun itu adalah salah seorang warga Semarang yang menekuni bisnis tokek.
"Sekali transaksi, saya bisa mengantongi uang ratusan juta rupiah. Bahkan hingga miliaran rupiah," ungkap pria kelahiran Probolinggo, 24 November 1957 tersebut, ketika ditemui Radar Semarang di kediamannya, Jl Puspowarno Tengah, Semarang Barat, Kamis (10/12).
Hendra menjelaskan, tokek yang bernilai jual tinggi itu memang bukan sembarang tokek. Beratnya per ekor harus lebih dari 3,5 ons. "Umumnya berat tokek di bawah 2 ons. Itu tak laku dijual. Kalaupun dijual, paling hanya laku Rp 2 ribu-3 ribu per ekor buat obat," jelasnya.
Dia menambahkan, tokek sendiri bisa dibagi menjadi tiga jenis: tokek hutan, tokek batu dan tokek rumah. Masing-masing memiliki ciri khas yang membedakan. Namun, di antara ketiga jenis tokek itu, tokek rumah-lah katanya yang paling mahal.
Untuk tokek rumah seberat 5-5,9 ons, harganya bisa mencapai Rp 250 juta per ons, sehingga per ekornya bisa laku sampai Rp 1 miliar. "Bahkan, tokek dengan berat lebih dari 5,9 ons dihargai Rp 500 juta per ons," tuturnya.
Hendra yang baru setahun menekuni bisnis tokek itu, menyatakan baru saja melakukan transaksi tokek rumah seberat 7 ons. Untuk transaksi itu, si mediator (penghubung, Red) meminta bayaran Rp 500 juta. "Anda percaya atau tidak, tapi ini benar-benar terjadi," tegasnya meyakinkan.
Untuk jenis tokek lain, lanjut Hendra, harganya memang tak setinggi tokek rumah. Tokek batu misalnya, harganya hanya Rp 5 juta per kg dan harga tokek campuran cuma seperempat harga tokek rumah. "Tokek batu itu besar-besar. Seekor bisa lebih dari 1 kg," ujarnya.
Karena harganya yang sangat menggiurkan, wajar saja bisnis tersebut sekarang menjadi santapan empuk para tukang tipu. Modus penipuannya bisa dilakukan dengan pemberian obat, makanan, atau alat pemberat lain yang mampu meningkatkan berat badan tokek. "Pernah ada yang memasukkan gotri (peluru) di tubuh tokek biar beratnya tambah," ceritanya.
Namun, pengusaha multi-talenta tersebut memiliki cara sendiri untuk mengantisipasi penipuan dalam bisnisnya itu. Suami Tabita Sriwatiningsih tersebut menyatakan telah memiliki jaringan perdagangan tokek yang kuat. Mayoritas pembeli yang dilayaninya adalah konsumen di luar negeri.
Sementara untuk jaringan ke bawah, mulai dari para penjual dan pengumpul, Hendra menggunakan cara tersendiri guna mencegah penipuan. Yakni, penjualannya melalui foto, serta pembayaran melalui beberapa tahap. "Usaha dengan omzet miliaran seperti ini rawan penipuan. Kalau tidak cermat, akan mudah ditipu makelar. Karena itu, saya punya cara sendiri untuk mengatasi penipuan," ujarnya.
Dia menjelaskan, sistem penjualan tokek dipasarkan melalui foto tertutup. Tokek tidak diperlihatkan secara utuh. Namun, tokek difoto di atas timbangan digital, yang di sampingnya diletakkan koran untuk mengetahui tanggal berapa tokek tersebut difoto.
Foto tersebut kemudian dipasarkan melalui internet atau dikirim dalam bentuk print out. Orang yang hendak membeli tokek harus lebih dulu menyatakan sanggup bertransaksi dengan mentransfer sejumlah uang. "Selanjutnya, saat terjadi transaksi langsung, barulah dibayar lunas," jelasnya.
Untuk pembelian dari pengumpul atau pemilik, Hendra menggunakan tiga tahap pembayaran untuk menghindarkan penipuan. Pertama, pernyataan kesanggupan dengan membayar sejumlah tertentu. Lalu, selama beberapa hari, dia mengamati kondisi kesehatan tokek. Jika tokek tetap sehat, dirinya baru membayar uang muka. Baru setelah beberapa minggu dipastikan tokek dalam keadaan aman dan sehat, dia membayar lunas harga yang disepakati.
"Tentunya, kita harus lebih cerdas dari para penipu. Saya sudah punya pengalaman ditipu orang. Itu menjadi pengalaman paling berharga," kata pria yang sehari-hari mengendarai Honda Jazz merah tersebut.
Hendra menambahkan, mayoritas tokek itu dijual ke luar negeri. Namun, dengan alasan bisnis, dia enggan menyebutkan negara-negara pengimpor tokek asal Indonesia itu. "Ya, pokoknya dibeli orang luar sana, Mas," tegas bapak empat anak itu.
Di luar negeri, tokek yang beratnya lebih dari 3,5 ons tersebut digunakan untuk bahan penelitian. Termasuk untuk menciptakan obat-obatan, pembuatan senjata biologi, serta kepentingan teknologi biologis lainnya. "Tokek untuk pengembangan teknologi ke depan tidak akan surut. Justru permintaan akan semakin tinggi," ujarnya optimistis.
Untuk mengembangkan bisnis tersebut, selain di Semarang, kini Hendra telah mampu membuka lima kantor pemasaran. Masing-masing yakni di Bekasi, Bandung, Surabaya, Denpasar dan Jakarta. Kantor cabang tersebut, selain untuk bisnis tokek, juga dimanfaatkan Hendra untuk bisnis lain yang telah ditekuninya lebih dulu, yaitu kursus bahasa, pembuatan website, serta bisnis handphone dan komputer. (abaz/aro/jpnn/kum)
Sumber:

Giant Gecko Berarti Tokek Raksasa

16 March 2010 | 20:09
Davied Hendra, Miliuner Pengusaha Tokek
Ketika saya mengadakan Pelatihan Budidaya Pembesaran Tokek dalam Waktu 6 Bulan Bisa Jadi 4 Ons, banyak yang percaya dan mengikuti pelatihan yang saya adakan di 5 kota: Semarang, Surabaya, Denpasar, Bandung dan Bekasi. Namun ada juga yang tidak percaya bahkan ada beberapa orang bernada mencibir dan mengatakan mustahil tokek bisa mencapai 4 ons. Ya, ya, saya maklum, ini alam demokrasi tapi yang patut disayangkan kadang seseorang tanpa berpikir sejenak, merenungkan dulu, berpikir rasional, dan berpikir bahwa di dunia ini tidak ada yang tidak bisa dan di dunia ini usdah biasa yang langka, yang aneh, yang ganjil terjadi di seantero dunia ini.
Persoalan sebenarnya remeh saja, adakah atau bisakah tokek mencapai berat 4 ons atau 5 ons atau bahkan sampai 1 kg. Sebenarnya jawabannya sederhana juga, bisa saja, itu kan soal berat saja, itu kan soal gemuk saja atau soal bertambah berat. Nah, dari sini saja banyak orang yang salah dalam pemikirannya, dikira tokek berat 4 ons itu sebesar betis orang dewasa, panjang sekali hampir 1 meter. Padahal yang dimaksud tokek berat 4 ons atau 5 ons itu hanya soal penambahan berat, hanya soal gendut atau gembrot atau gemuk saja. Kenapa kok, dibilang mustahi atau tidak mungkin ada.
Bukankah kita juga bisa melihat ada orang gemuk, orang dengan berat 1 kuintal. Kita juga bisa melihat ada budidaya penggemukan sapi, penggemukan ayam, dan lain-lain. Lha, kalau sekarang saya mengadakan penggemukan tokek, apakah itu tidak mungkin?
Kenapa harus pakai ada pelatihan segala, kan hanya soal tokek? Nah, ini masalahnya saya usdah pergi ke banyak daerah atau kota atau desa dan banyak orang atau kelompok yang memelihara tokek dan ternyata bukannya tambah gemuk tapi setelah dipelihara bertahun-tahun dan tidak sedikit dana untuk membeli pakan. Bayangkan kalau 1 hari beli jangkrik Rp50 ribu maka 1 bulan Rp1,5 jt maka 1 tahun Rp18 juta dan kalau 4 tahun maka jadi Rp72 juta biaya pakan saja lalu tokek ditimbang hanya berat 2 ons kurang sedikit. Langsung pingsan yang memelihara.
Dari kenyataan itulah penulis ingin berbagi ilmu dan memberi paparan yang sudah teruji dan bukan perkiraan tapi target dan setiap yang kita paparkan memang realistis. Berpedoman pada kehidupan nyata dari sang maha kuasa yang memberi kedudukan manusia itu lebih tinggi derajatnya dari binatang, dan kita bisa menguasai dan memang berkuasa atas binatang termasuk tokek, jadi jangan sampai kita dibodohin oleh tokek yang embahnya atau saudara nya kadal, dan biasanya diistilahkan dikadalin.
Saatnya budidaya tokek tapi kita tidak boleh menuruti kemauan tokek, dan kita malah menjadi budak tokek dengan setia memberi makan siang dan malam tapi kita dikejutkan dengan hasilnya ternyata tokek tidak menjadi gemuk.
Belajar dari cara menggemukkan sapi, tidaklah sapi itu dibiarkan semaunya tapi memang ada aturan dan ada kandang yang khusus ciptaan manusia. Demikian juga dengan tokek, jangan menjadikan seperti di alam lagi. Tapi dari cara bikin kandang yang betul-betul penuh pemikiran dan pemahaman, memberi pakan yang betul dijaga kandungan vitamin dan unsur yang membuat tokek bisa cepat gemuk dan mempengaruhi penambahan berat tokek.
Semoga bermanfaat!
Davied Hendra, Miliuner Pengusaha Tokek, Website http://www.pasartokek.com
Sumber:

Ekspor Tokek, Mau?

Jumat, 30 Oktober 2009 | 08:13 WIB
PROBOLINGGO, KOMPAS.com - Peluang ekspor tokek kering masih terbuka lebar bagi pengusaha di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Namun, pengusaha daerah itu hanya mampu mengirim rata-rata 100.000 ekor per tahun dari permintaan 1 juta ekor dari importir asal China.
Budidaya tokek dikembangkan di Kecamatan Tegalsiwalan, Probolinggo. Seorang pengusaha bersama 10 peternak plasma mengembangkan budidaya tokek dengan melibatkan sekitar 100 warga.
Tokek kering diekspor ke China untuk bahan baku obat-obatan dengan harga Rp 40.000 per kilogram. Adapun tokek hidup dipasarkan di pasar domestik, juga untuk bahan obat-obatan, terutama obat kulit, seharga Rp 2.000 hingga Rp 2.500 per ekor.
”Tahun ini, kami baru bisa mengekspor 100.000 tokek kering. Padahal, importir sanggup menampung 1 juta ekor per tahun,” kata Didik Prabudi (44), pengusaha tokek kering, Kamis (29/10) di Probolinggo.
Menurut Didik, selama ini importir menutupi kekurangan pasokan dari Indonesia dengan mengimpor tokek dari Thailand, Kamboja, dan Vietnam. ”Importir sebenarnya lebih memilih tokek kering dari Indonesia karena harganya lebih murah,” katanya.
Ia menambahkan, guna mengembangkan produksi, peternak plasma perlu diperbanyak. Persoalannya, mayoritas warga di Tegalsiwalan tak punya modal untuk memulai usaha itu karena mereka petani tegalan yang berpenghasilan minim.
”Sebenarnya banyak yang tertarik karena budidaya tokek ini bisa meningkatkan ekonomi warga. Mereka selama ini selalu menganggur sepanjang musim kemarau karena tanah kering kerontang tak bisa digarap,” kata Sumarto (35), peternak plasma, yang bisa meraup omzet rata-rata Rp 2 juta per bulan.
Lebih bagus
Didik menyebutkan, kualitas tokek kering dari Thailand lebih bagus daripada tokek asal Indonesia. Peternak Thailand sudah mengembangkan secara modern, sedangkan di Indonesia lebih banyak secara otodidak. Literatur budidaya dan pengolahan tokek pun masih sulit ditemukan.
Pengendali Ekosistem Hutan Seksi Konservasi Wilayah VI Probolinggo, Mohamad Syamsuddin, menjelaskan, tokek tergolong satwa liar tak dilindungi. Peredaran tokek untuk kepentingan komersial bisa dilakukan, tetapi dibatasi sistem kuota yang dikeluarkan Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati Departemen Kehutanan.
Untuk peredaran tokek yang bahan bakunya berasal dari hasil tangkapan di alam, kuota ditetapkan berdasarkan keseimbangan populasi yang tersedia di alam. Adapun untuk peredaran tokek yang dihasilkan dari penangkaran, kuota ditetapkan berdasarkan kapasitas produksi masing-masing pengusaha. ”Jika pengusaha menambah kapasitas produksi, kuota akan disesuaikan,” kata Syamsuddin.
Tahun ini, kuota tokek hasil tangkapan di alam secara nasional 50.000 ekor. Kuota terbesar di Nusa Tenggara Barat 10.000 ekor. Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat masing-masing 6.000 ekor. Sisanya dibagi untuk beberapa daerah. (las)
Sumber:

Mereka Menanti Pembeli Tokek Itu Datang

Minggu, 11 Oktober 2009 | 11:14 WIB

BA'A, KOMPAS.com — Warga Desa Daleholu, Kecamatan Rote Selatan (Rosel), Kabupaten Rote Ndao, ramai-ramai berburu tokek di pohon-pohon karena tersiar kabar harga tokek Rp 30 juta dengan ukuran berat tiga ons.

Di Desa Daleholu, beberapa anak sekolah masuk ke luar hutan untuk mencari tokek di pohon-pohon. Seorang pria dewasa pun terlihat sibuk mencari tokek di sekitar hutan Fafalu.

Seorang anak ketika ditanya mengaku berburu tokek karena didatangi beberapa orang yang mengaku mencari tokek besar seberat tiga ons dengan harga Rp 15 juta per ekor "Ada orang Jawa yang datang mencari tokek yang beratnya tiga ons ke tempat ini. Dia mengaku mau beli tokek dengan harga Rp 10 juta hingga Rp 30 juta sehingga kami ramai-ramai mencari tokek," kata Yusak Malelak.

Yusak mengatakan, ia dan teman-temannya serta sejumlah pemuda dan orang dewasa saat ini berburu tokek karena tergiur dengan informasi harga tokek yang mahal. Ia lalu bersama teman-teman berburu tokek di pohon-pohon yang ada di hutan, gua, dan di gedung-gedung. Rata-rata hasil tangkapan mereka bisa mencapai tiga sampai empat ekor per hari.

"Satu hari kita bisa tangkap 3-4 ekor tokek besar. Tapi kami tidak tahu apakah beratnya mencapai 3 ons atau belum. Kami sudah tangkap cukup banyak tokek. Namun, belum satu ekor pun yang terjual. Kami harap pembelinya cepat datang," kata Yusak diamini teman-temannya.

Seorang pemuda lainnya yang ditemui di desa itu mengaku sudah menangkap 10 tokek. Tokek itu dipelihara sementara di rumah dan diberi makan pisang.

"Kami coba mengikuti informasi tentang harga tokek. Siapa tahu pembelinya benar datang membeli tokek yang kami tangkap. Kalau tidak ada yang membeli, tentu kami akan lepas kembali. Hanya harap Mas (sebutan pria) Jawa itu benar-benar datang lagi untuk membeli," kata pemuda yang mengaku malu namanya dikorankan. (mar)

Sumber:

Wirausaha -- Berhaji dengan Ikan dan Tokek

14 Desember 2009
SUTARJO kini punya pekerjaan sambilan yang memberikan penghasilan jauh lebih besar ketimbang usaha utamanya. Semula ia membuka warung ikan bakar. Hasilnya lumayan. Tapi belakangan bisnis jual-beli tokek lebih menyita waktunya. Maklumlah, duit yang bisa diraupnya memang jauh lebih menjanjikan. Seekor tokek berukuran 3 ons bisa dijual sampai Rp 30 juta.
Sudah setahun ini, Sutarjo menggeluti bisnis reptil yang punya nama ilmiah Gekko gecko itu, dari membeli bakalan, melakukan pembibitan, sampai menjualnya. "Awalnya iseng. Setelah tahu hasilnya besar, saya coba agak serius," kata pria asal Pacitan yang akrab disapa Tarjo ini.
Bisnis ini bermula pada pengujung 2008. Saat itu Tarjo ditemui seorang rekannya yang mencari tokek sepanjang 30 sentimeter. Bobotnya harus 3-5 ons. Dahsyat, si kawan berani membayar dengan harga Rp 10-50 juta per ekor. Saat itu, ia belum paham kenapa harganya begitu mahal. "Awalnya saya bertanya-tanya, tapi saya usahakan juga karena saat itu ada waktu luang," ujarnya.
Melalui saudaranya di kampung, Tarjo pun berhasil memperoleh 12 ekor tokek dengan bobot 0,5-1 ons. Setelah dipelihara selama tiga bulan, bobot tokek-tokek itu bertambah hingga 3 ons. "Setelah saya tawarkan, eh, dibayar Rp 5 juta seekor," katanya.
Dari situ Tarjo yakin, si tokek bakal mendatangkan rezeki. Secara bertahap, ia mengorder tokek bakalan dari Pacitan, Wonogiri, Solo, dan Cirebon untuk dibiakkan. Di kota-kota itu, tokek ditangkap dari perumahan hingga alam liar. Salah satu medan perburuan favorit ialah Alas Jebulan, Watugaleng, Pacitan.
Menurut Gino, mitra Tarjo yang biasa berburu di hutan itu, tokek diambil dari pepohonan atau tebing kecil. "Kami biasa menggunakan tangga untuk memanjat," ujarnya. Cara menangkapnya pun tak sembarang. Sarana pelindung tubuh harus lengkap. Memakai topi plus sarung tangan. Jika tidak, salah-salah tangan bisa tergigit dan akibatnya cukup fatal.
"Ada racunnya. Selain itu, susah dilepas, harus dicungkil pisau," tutur Gino.
Tokek-tokek hasil perburuan itu kemudian dikemas dalam kotak kayu dan dikirimkan kepada Tarjo. Untuk seekor tokek seberat setengah ons, Gino dibayar Rp 20 ribu. "Jika sudah besar dan terjual mahal, ada bonus," katanya sembari terkekeh.
Sampai di tangan Tarjo, tokek-tokek kecil yang akan dibiakkan disimpan terpisah. Agar tumbuh baik, hewan itu diberi pakan serangga dan potongan daging ikan. Setelah dipelihara selama setahun lebih, bobotnya pun melar hingga lebih dari 3 ons. Selain merawatnya mudah, hewan ini relatif tahan penyakit.
Saat ini, Tarjo memiliki kurang-lebih 800 ekor tokek, dan 200 di antaranya siap jual. Reptil-reptil itu ditempatkan di tujuh kandang khusus dari kayu yang diletakkan di dak lantai tiga rumahnya, di bilangan Ciledug, Tangerang. Order pun terus mengalir. Setiap hari tak kurang dari 10 orang mengontak Tarjo. Namun tak semua dilayani. "Saya harus memilih yang benar-benar serius agar hasilnya maksimal," ujarnya.
Tarjo mengaku saat ini ia tengah menjalin bisnis dengan pengusaha asal Belanda, Korea, dan Jepang yang meminta pasokan tokek berbobot 3-5 ons. Orang-orang asing itu mengaku membutuhkan tokek untuk bahan baku obat berbagai penyakit, seperti kanker, stroke, sakit gula, penyakit kulit, hingga AIDS. "Itu kata mereka, saya sendiri enggak tahu pasti khasiatnya," ujar bekas buruh bangunan ini.
Dalam beberapa kali pengiriman ke kolega asingnya itu, tokek-tokek tersebut ada yang dihargai sampai Rp 30 juta. Tapi pria 41 tahun ini enggan menyebut nilai penjualannya. Yang pasti, untungnya gede. Dengan biaya pemeliharaan yang relatif murah, Rp 1-3 juta untuk keseluruhan tokek selama kurang-lebih delapan bulan, paling tidak ia bisa menjual Rp 5 juta seekor.
Hasilnya pun kentara. Dari bisnis ikan bakar dan tokek, Tarjo bisa membangun rumah bertingkat yang lumayan megah. Tak lupa, ia pun bisa menunaikan ibadah haji. Bahkan salah satu tetangganya mengatakan Tarjo bisa membangun masjid besar di dekat rumahnya. "Amin," kata Tarjo saat dimintai konfirmasi mengenai hal itu.
Dalam setahun terakhir, tokek-tekek dalam bahasa Jawa-memang telah menjelma menjadi bisnis yang menjanjikan. Keuntungannya bisa jutaan rupiah. Tak hanya jual-beli langsung, bisnis ini juga ramai di dunia maya. Ketik saja "tokek" di mesin pencari, ribuan entri akan muncul. Hanya, masih belum terbukti, apakah bisnis ini akan bertahan lama atau sekadar euforia sesaat.
Fery Firmansyah
Sumber:

Gara-gara Tokek, Uang Perusahaan Rp 121 Juta Raib

Tokek Seberat 64 Kg Akhirnya Terjual Rp 179 Miliar


Tribunnews.com - Kamis, 6 Mei 2010 23:07 WIB

Laporan Wartawan Tribun Kaltim, Noe
Tokek raksasa seberat 64 kg ini akhirnya terjual dengan harga Rp 179,2 miliar. 
Pembeli adalah orang Indonesia yang kemudian Tokek tersebut dibawa ke China. (sumber Tribun Kaltim)
TRIBUNNEWS.COM, NUNUKAN - Luar biasa! Seekor Tokek raksasa seberat 64 kilogram yang ditemukan di perbatasan Nunukan-Malaysia di Kalakbakan, akhirnya terjual dengan harga 64 juta ringgit Malaysia atau setara Rp 179,2 miliar (kurs Rp 2.800).
"Tokeknya sudah dijual dengan harga RM 1 juta per kilogramnya," kata Arbin pria yang sempat mengabadikan gambar tokek tersebut, saat dihubungi melalui telepon selulernya di Malaysia.
Sejak Tribun memberitakan penemuan tokek seberat 64 kilogram tersebut, telepon di kantor redaksi maupun ponsel wartawan Tribun secara bergantian dihubungi para pengusaha yang mengaku ingin membeli tokek tersebut.
Karena itulah, wartawan Tribun di Nunukan menghubungi Arbin yang berada di Tawau, Malaysia untuk melihat kembali tokek yang berada di Kalakbakan itu.
Setelah dicek lagi ternyata sudah dibeli oleh orang Indonesia.
"Tokeknya dibeli orang Indonesia kemudian dibawa keluar negeri, kalau tidak salah ke Cina," kata Arbin. Walau sudah terjual, masih banyak penelepon yang mengejar pembeli Tokek tersebut untuk dibeli lagi dengan harga yang lebih mahal.
Tidak banyak informasi yang didapatkan Arbin mengenai transaksi tersebut, sebab sang pemilik tokek juga sudah berangkat ke Kuala Lumpur.
"Saya sudah mencoba mencari informasi siapa yang membeli, namun tidak ada yang tahu. Orang-orang sana cuma menyebutkan ada orang dari Indonesia yang membeli," ujarnya.(*)
Sumber:
http://www.tribunnews.com/2010/05/06/tokek-raksasa-itu-akhirnya-terjual-rp-179-miliar

Kaki Tokek Sanggup Tahan 350 Kilogram

Jumat, 17 Februari 2012 16:53 WIB
Jakarta (ANTARA News) - Sekelompok peneliti polymer dan biologi dari University of Massachusetts Amherst menemukan lem di kaki tokek sanggup menahan beban 350 kilogram (700 pon) pada tembok yang rata.
"Menakjubkan, kaki tokek dapat nempel dan lepas dengan mudah tanpa sisa lem yang lengket pada permukaan," kata Ducan Irschick, peneliti yang selama 20 tahun mempelajari bagaimana tokek menempel dan merayap.
Irschick, bersama Michael Bartlett rekan satu timnya, mengatakan kemampuan menempel, membalik, menahan beban, dan daya adhesi pada kaki tokek membuka kemungkinan penerapan kemampuan yang sama pada berbagai bahan sintesis.
"Berbagai kombinasi kemampuan ini belum pernah ditemukan sebelumnya," kata Bartlett.
Para peneliti menyebutkan luas permukaan lem di kaki tokek sekitar 16 inci persegi dan dapat menahan berat maksimal sekitar 700 pon pada permukaan rata seperti kaca.
Selain kemampuan menempel yang kuat, alat penempel tokek dapat dilepas dan digunakan kembali beberapa kali tanpa kehilangan daya adhesi-nya.
Irschick menambahkan kaki tokek mempunyai sejumlah elemen yang saling berinteraksi termasuk tendon, tulang, dan kulit. Elemen-elemen itu menghasilkan daya adhesi yang dapat dibalik.
(I026).
Editor: Aditia Maruli
Sumber:

Khasiat Daging Tokek

Senin, 26/04/2010 11:25 WIB
Vera Farah Bararah - detikHealth
Jakarta, Tokek banyak dicari orang karena dipercaya bisa mengobati berbagai penyakit. Karena banyak yang mencari, binatang ini pun harganya mahal. Apa saja khasiat daging tokek yang konon bisa menyembuhkan penyakit itu?
Khasiat daging tokek yang dikonsumsi sebagai makanan atau dalam bentuk bubuk dipercaya bisa mengobati berbagai macam penyakit seperti penyakit kulit, asma dan juga meningkatkan stamina kaum laki-laki. Tapi hingga kini belum ada penelitian secara farmakologi yang mampu menunjukkan khasiat dari pengobatan menggunakan tokek tersebut.
Tokek pernah dilaporkan dalam laporan praktik klinis (uji coba ke makhluk hidup) yang menunjukkan memiliki efek positif terhadap tumor ganas. Sebuah tim riset yang dipimpin oleh Prof Wang dari Henan University of China pernah melaporkan hal ini.
Penemuan ini dipublikasikan dalam World Journal of Gastroenterology. Tapi tidak ada penelitian mengenai studi farmakologi (ilmu tentang interaksi antara obat, sistem dan proses hidup) dari tokek ini, sehingga mekanisme kerjanya sebgai anti-tumor masih belum jelas.
Seperti dikutip dari Medicalnewstoday, Senin (26/4/2010) hasil laporan praktik klinis tokek tidak hanya bisa memperkuat sistem kekebalan suatu organisme tapi juga dapat menginduksi sel-sel tumor opoptosis yaitu sel-sel tumor yang dapat menghancurkan dirinya sendiri. Dalam melakukan praktik klinis ini, tim peneliti menggunakan hewan percobaan tikus yang berjenis kelamin betina.
Selain itu tokek juga diyakini dapat menurunkan aktivitas dari protein VEGF dan bFGF. Protein-protein ini sangat mempengaruhi perkembangan dari sel-sel kanker.
Dampak meningkatnya sistem kekebalan dideteksi berdasarkan thymus yaitu kelenjar yang dapat memproduksi sel imun di dalam leher, sel pagosit dan limpa. Serta diketahui adanya penurunan ekspresi protein VEGF dan bFGF, dan peningkatan dari sel apoptotik yang bisa membunuh sel tumor.
Saat ini badan kesehatan dunia (WHO) sedang melakukan penelitian mengenai khasiat dari daging dan kulit tokek yang dipercaya dapat menyembuhkan penyakit AIDS, asma dan berbagai penyakit kulit lainnya.
Hal ini untuk mengetahui apakah pengobatan ini benar-benar efektif atau tidak, serta untuk melihat adakah efek samping yang mungkin bisa ditimbulkan.
Tokek sudah dikenal sejak puluhan tahun lalu sebagai obat tradisional China dan juga sebagai salah satu menu makanan. Seiring berkembangnya informasi yang menunjukkan khasiat dari tokek ini, tokek kini termasuk salah satu binatang yang memiliki harga jual tinggi. (ver/ir)
Sumber:

Mempercepat Pertumbuhan Tokek

31 Agustus 2010  --  Newsroom
Nama: Rusdianto
Pertanyaan:
Saya punya tokek 2 ekor, berat sekitar 2 dan 2.5 ons sudah saya pelihara sejak Mei 2010 dan setiap 2 hari saya kasih makan jangkrik secara berlebih agar tokek cepat besar. Yang saya tanyakan:
1. Kenapa pertumbuhan tokek sangat lambat?
Jawaban:
Pertumbuhan tokek bukan diukur dari cara pemberian makan yang berlebihan, tetapi pemeliharaan yang intensif dan pengaturan pola makan yang tepat. Tepat yang dimaksud adalah tepat jumlah dan tepat waktu.
Untuk tokek dengan berat 2-2.5 ons, pemberian ransum jangkrik dalam satu kali pemberian makan sekitar 8--10 ekor. Diberikan pada sore hari menjelang malam. Selain itu, makanan juga harus bervariasi (diganti-ganti), jadi bukan hanya jangkrik.
Pada buku Dahsyatnya Bisnis Tokek bab pakan dan minum dituliskan, pertumbuhan tokek tidak lambat asal perawatannya tepat. Tata letak kandang juga berpengaruh terhadap proses pertumbuhan badan tokek, seperti letak kandang harus terlindung dari sinar matahari langsung, kering, bersih, tidak lembap, sirkulasi udara bagus, tidak ada binatang pengganggu yang sering lewat di sekitar kandang pemeliharaan, tidak berisik, tidak ada aroma atau bau yang mengganggu, dan tidak terkena hujan.
2. Apa ada nutrisi atau vitamin yang bisa diberikan untuk mempercepat pertumbuhan tokek?
Jawaban:
Nutrisi atau Vitamin yang di cetak khusus untuk memompa bobot tokek sampai dengan ini belum ada, tetapi Anda boleh memberikan suplemen buatan, seperti mencampurkan air minum dengan sesendok madu, atau memberikan kuning telur ayam (putih telur dibuang) yang diencerkan dan ditaruh dalam wadah sedemikian rupa, lalu masukkan ke dalam kandang, yang diberikan 2 minggu sekali.
3. Bagaimana cara memberikan makan nutrisi vitamin, karena tokek takut kalau lihat orang?
Jawaban:
Pemberiannya biasa saja layaknya kita memberikan ransum. Jangan Anda coba-coba memaksa memasukkannya ke dalam mulut dengan cara menggelonggong. Perlu diketahui, tokek menjadi jinak dengan pemiliknya jika pemiliknya merawatnya dengan penuh kasih sayang. Tokek yang penulis pelihara sudah nampak jinak dan mengerti bila diberikan makan atau minum dan tidak berontak. Semoga jawaban ini berkenan di hati Anda. Selamat mencoba.
Salam kami,
Ir Agus Broto Susilo dan Purwadaksi Rahmat
Sumber:

Pemburu Tokek, Penawar AIDS

Sabtu, 26 Mei 2012 20:44:01
Tokek. merdeka.com/www.ragilagus.com
Sudah hampir tiga minggu, Badru hanya mendengarkan kicau burung yang berada di kios temannya di pasar Burung Pramuka, Jakarta Timur. Hampir tiga minggu pula dia tidak lagi mencari binatang melata yang bagi sebagian orang justru menakutkan. Berburu tokek.
"Kemarin-kemarin lagi kurang enak badan. Tapi besok sudah sudah nyari tokek lagi," ujar Badru kepada merdeka.com di pasar Burung Pramuka, Jakarta Timur, Jumat (25/5).
Meski sering dianggap mengganggu, tetapi tokek ternyata memiliki harga jual yang tinggi. Hewan bertotol merah yang pemalu ini dipercaya sebagai obat menawar HIV AIDS.
Maka tak salah jika Badru dan beberapa rekannya menjadi pemburu binatang yang memiliki nama latin Gekko gecko ini sebagai pekerjaan. Namun tentu tidak sembarang tokek yang bisa dijual.
Menurut pria asal Cirebon ini, mencari tokek juga bukan perkara mudah. Salah-salah justru mendapat petaka.
"Pernah dikira mau maling dan mau dihajar orang karena masuk rumah kosong. Padahal sebelumnya sudah bilang sama tetangga rumah kosong itu, tapi tetap dikira maling," kenang Badru.
Badru sendiri sebenarnya tak paham mengapa harga tokek begitu mahal, namun dari penuturan rekannya, hewan mirip cicak besar ini untuk obat HIV AIDS. Lidah dan darah tokek konon bisa melawan virus HIV. Selain lidah, empedu tokek juga dipercaya untuk pengobatan orang yang mengidap AIDS.
Namun tidak semua tokek berkhasiat hebat, menurut Badru pengepul hanya mau menerima tokek besar dan kondisi baik, dalam artian tidak ada luka atau ekornya terputus.
"Harga variasi tergantung berat sama kondisi tokek. Kalau kurang dari 1,5 ons paling Rp 150 ribu sampai 200 ribu. Tapi kalau di atas 2 ons bisa sampai Rp 4 jutaan," terangnya.
Bahkan menurut Badru bila lebih dari 4 ons, harganya bisa lebih dari Rp 100 juta. Tapi sekali lagi, tokek bukan binatang yang mudah ditaklukan.
"Nangkapnya juga pakai teknik, supaya tidak ada luka dan stres. Tokek kalau dipegang tangan manusia stres, dan kalau stres bobotnya turun," terangnya.
Karena sudah hampir lima tahun menggeluti pekerjaan pencari tokek, Badru sedikit paham karakter dan kebiasaan buruannya. Tokek biasanya berada di rumah kosong atau di balik pohon hutan. Yang jelas, tokek sebisa mungkin akan menghindari manusia.
"Paling berat dulu dapet 3 ons lebih, hasil dibagi empat. Tapi sekarang sudah susah, paling dapetnya yang kurang dari satu ons paling banter satu ons lebih," terangya.
Informasi lain menyebut bahwa tokek terbesar pernah mencapai harga ratusan miliar. Harga tokek akan lebih mahal jika sudah mencapai 1 kilogram.
Konon pernah ada tokek raksasa ditemukan di pedalaman Kalimantan dengan berat hingga 64 kilogram. Tokek raksasa itu kemudian terjual dengan harga Rp 179 miliar, dibeli oleh pengusaha Korea.
Tertarik mengikuti jejak Badru berburu tokek?
[hhw]
Sumber:

Masya Allah, Ada Tokek Seharga Rumah Mewah

Selasa, 05 Juni 2012, 15:01 WIB
Tokek/Ilustrasi
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tokek, cicak besar dari marga Gekko, ternyata banyak dicari orang. Pasalnya, satu ekor tokek ada yang seharga Rp 2 miliar atau setara dengan harga satu unit rumah mewah.

"Itu Rp 2 miliar harganya, bukan Rp 2 juta," kata Makmuri (45), penjual tokek di Pasar Pramuka, Jakarta, sambil menunjuk ke salah satu koleksi tokek di tokonya.

Makmuri, tokek dengan bobot lima ons sangat langka. Sehingga dibandrol seharga satu buah mobil mewah atau rumah mewah. Berat seekor tokek rata-rata hanya satu ons.

"Tapi tidak bisa lima ons untuk lima tokek, atau dua tokek, pokoknya laku Rp 2 miliar hanya untuk seekor tokek yang berbobot lima ons," kata dia.

Ia menambahkan, harga seekor tokek dengan bobot normal hanya berkisar Rp 75 ribu sampai Rp 100 ribu. "Kalau berlaku Rp 2 miliar untuk semua jenis tokek mah saya sudah kaya dari dulu," kelakar dia.

Menurutnya, tokek banyak dicari orang untuk menyembuhkan berbagai jenis penyakit seperti gatal-gatal, kurap basah, sesak napas, dan kusta. "Pelanggan yang membeli ini biasanya paranormal dan 'orang pinter'," kata dia mengakhiri.
Sumber:

Peluang Bisnis Tokek -- Yuk, Memelototi Tokek yang Antibokek

Oleh  Rivi Yulianti  -- 
Bisnis jual beli tokek, entah hidup atau kering, masih marak. Bahkan, harga tokek hidup ukuran tertentu bisa sampai miliaran rupiah. Budidayanya relatif gampang dan murah. Tujuan akhirnya adalah membuat tokek cepat besar dan gemuk.
Bisnis tokek alias Gekko gecko masih menarik. Meski tak seheboh beberapa tahun silam, permintaan binatang melata ini tidak surut. Selain pasar lokal, penjual membidik pasar ekspor ke China dan Taiwan. Budidaya binatang keluarga Gekkonidae ini cukup gampang.
Davied Hendra, pebudidaya tokek dari Semarang, berhasil menjadi miliarder berkat budidaya tokek. Yang paling banyak dicari adalah tokek dengan berat di atas empat ons. “Enzim tokek seberat itu sudah mengental dan bisa dijadikan obat AIDS, antraks, cikungunya, dan kanker,” ungkap dia. Daging tokek bisa dimanfaatkan sebagai obat keperkasaan.
Harga tokek hidup juga bervariasi. Contohnya, tokek berbobot 3,3 ons dihargai Rp 50 juta per ekor, tokek seberat 3,6 ons laku Rp 250 juta, tokek 3,8 ons dihargai Rp 750 juta, dan tokok seberat 4,2 ons dihargai Rp 2 miliar. “Saya pernah jual tokek berbobot 6 ons dengan harga Rp 5 miliar,” tutur Davied.
Proses budidayanya gampang. Menurut Davied, yang terpenting adalah media atau kandang tokek. Kuncinya: jangan sampai memanjakan tokek. “Jangan diberi kandang yang membuat mereka terlalu nyaman untuk mlungker (tiduran),” ungkap Davied.
Tokek memiliki kemampuan adaptasi cukup tinggi terhadap ruangan. Jika berada di ruangan sempit dalam waktu lama, badan tokek akan mengecil mengikuti luas kandangnya. Otomatis, bobotnya berkurang.
Makanya, penting membuat kandang yang horizontal, bukan vertikal. Sebab, posisi vertikal membuat tokek akan menggantung dan bisa menghabiskan energi. Akibatnya, tokek susah gemuk.
Kandang bisa dibuat dari kayu atau kawat ukuran 50 cm x 50 cm x 50 cm, dengan papan adaptasi ukuran 12 cm x 40 cm yang diletakkan mendatar. “Fungsinya agar tokek cepat beradaptasi dengan posisi horizontal,” ungkap Davied.
Atur makanannya
Sebaiknya satu kandang hanya ditempati seekor tokek. Apabila melihat temannya lebih dominan atau berkuasa, sesama tokek berantem. “Bisa juga minder sehingga tak mau makan,” kata Davied.
Kandang juga jangan terlalu gelap. “Agar tokek tidak bertapa,” ungkap Davied. Bertapa adalah istilah jika tokek diam dan tak mau makan.
Makanan tokek juga harus variatif, seperti jangkrik, laron, kroto, kupu-kupu. Sutarjo, pebudidaya tokek dari Jakarta menyalurkan nutrisi lewat jangkrik. “Saya kasih sawi, bayam, dan tauge,” ujar dia.
Pemberian makan harus bertahap. Misalnya, dalam sehari, paling banyak delapan ekor jangkrik. Tujuannya, agar nafsu makan tokek tetap terjaga. “Kalau sudah kekenyangan, ia bisa berhari-hari tidak mau makan,” tambah dia.
Tokek bisa bertelur sekali dalam sebulan dan baru menetas sekitar dua bulan kemudian. Agar tidak memakan telur, Sutarjo menyarankan, tokek betina berumur lebih dari setahun harus dipisah dari kawanan. Soalnya, betina itu tidak akan bertelur lagi,” ungkap dia.
Sutarjo juga mewanti-wanti agar tokek anakan dijauhkan dari semut. Semut suka memakan kulit tokek yang sedang berganti. Ini bisa menyebabkan kematian tokek.
Sumber:

Budidaya Tokek Pakistan -- Tokek Tetap Hoki Meski Tak Bunyi

Oleh  Indira Prana Ning Dyah  --  Senin, 03 Januari 2011 | 12:10 WIB


Bagi sebagian orang, tokek identik dengan binatang melata yang berbunyi khas. Tapi, kini mulai marak tokek pakistan yang bisa membawa untung meski dia tidak berbunyi. Apalagi jika tokek ini bisa disilang dan menghasilkan varian baru.

Leopard gecko atau tokek pakistan mungkin belum terlalu akrab di telinga Anda. Namun, hewan reptil asal Pakistan ini bisa menjadi peluang usaha yang lumayan menguntungkan. Terutama bagi mereka yang memang hobi berbisnis binatang melata.

Syarat utama menjadi pembudidaya dan penjual tokek, tentu saja, tidak boleh geli dengan binatang reptil. Nah, salah satu pembudidaya yang tidak geli pada tokek dan malah terbilang sukses adalah Eri Santoso, pemilik Pet Network. Ia sudah membudidayakan Leopard gecko sejak 2003.

Awalnya hanya hobi, namun sekarang ia sudah menjadi pembudidaya dan penjual tokek pakistan yang meraup untung besar. Bahkan, setelah sukses membudidayakan tokek unik ini, kini usahanya melebar ke budidaya binatang lain.

Berbeda dengan tokek lokal, tokek pakistan ini tidak berbunyi. Justru kebisuan ini menjadikannya piaraan yang cukup ideal. Sifat Leopard gecko lain yang menjadi alasan orang membudidayakan adalah: binatang melata yang satu ini tidak bisa memanjat. “Leopard Gecko tidak memiliki suction cup alias alat pengisap untuk memanjat,” kata Eri.

Alhasil, tokek pakistan cocok bagi mereka yang masih pemula dalam memelihara reptil, karena sifatnya yang jinak.

Dibisniskan pun cocok. Karena, harga jual tokek pakistan juga menggiurkan: antara Rp 100.000 hingga Rp 10 juta per ekor. Yang menyebabkan perbedaan harga itu adalah jenis tokek atau biasa disebut morph oleh para penggemar reptil.

Jika ingin menjual tokek pakistan dengan harga tinggi, seorang pembudidaya harus menciptakan kombinasi hasil persilangan. “Dengan tokek pakistan orang berlomba-lomba menciptakan jenis baru. Makin unik makin mahal,” kata Gunawan, pedagang tokek pakistan.

Eri mencontohkan, tokek albino atau biasa disebut tremper bisa dibanderol Rp 300.000 per ekor. Namun, hasil persilangan antara tremper dan tokek jenis blizzard bisa dihargai Rp 1 juta per ekor. Jenis tokek favorit ini biasanya juga mengikuti tren di pasaran.

Bagi Anda yang ingin membudidayakan tokek pakistan, indukan standar tokek pakistan bisa dibeli dengan harga mulai dari Rp 1 juta sepasang. Menurut Gunawan, dulu saat ia memulai budidaya, harga indukan tokek pakistan bisa mencapai Rp 3 juta sepasang. Namun, seiring dengan meningkatnya pembudidaya, harga indukan pun semakin turun.


Ongkos perawatan terhitung murah

Tapi, untuk menciptakan tokek blasteran diperlukan induk-an impor yang harganya bisa mencapai Rp 10 juta per ekor. “Kadang uang hasil penjualan tokek saya gunakan untuk membeli indukan baru yang unik,” kata Eri.

Tapi, Anda jangan khawatir rugi. Pasalnya, satu indukan bisa mengembalikan modal dalam waktu yang relatif singkat. Setelah memasuki usia kawin pada bulan kedelapan, seekor induk bisa menelurkan dua butir telur setiap dua minggu sampai sepuluh kali berturut-turut. “Setelah itu mereka beristirahat antara enam bulan sampai setahun,” terang Gunawan.

Idealnya, tokek dikawinkan pada usia setidaknya 10 bulan, imbuh Eri. Tokek yang ia budidayakan hanya bertelur dua butir per bulan. Jarak antara perkawinan hingga bertelur biasanya 28 hari, dan dari telur hingga menetas diperlukan waktu 35 hari sampai 60 hari.

Sisi yang juga mengentengkan pembudidaya, tokek pakistan termasuk binatang reptil yang murah perawatannya. Soalnya, satu ekor tokek hanya perlu diberi makan lima ekor jangkrik setiap dua hari. Sementara, di Jakarta, harga jual jangkrik hanya Rp 20.000 per 1.000 ekor. Sedangkan harga bahan alas kandang tokek sekitar Rp 20.000 per kotak, dan hanya perlu diganti setiap enam bulan sekali.

Meski termasuk binatang melata, namun bukan berarti Leopard gecko sepi peminat. Eri mengaku bisa menjual sampai 100 ekor tokek pakistan dalam sebulan, dengan omzet berkisar antara Rp 10 juta sampai Rp 20 juta. “Biasanya pembeli datang dari kalangan pehobi reptil,” kata Eri.

Sementara Gunawan, yang memiliki 50 ekor indukan dan 100 ekor anakan, mengaku bisa menjual sekitar 20 ekor tokek setiap bulan dengan omzet Rp 5 juta saban bulan. Gunawan tidak memiliki toko tersendiri, melainkan memilih bergerilya di forum-forum internet untuk menjajakan tokek pakistan. “Penjualan cukup cepat secara online karena Leopard Gecko biasanya tidak dijual di pet shop,” tuturnya.

Biasanya, para pemilik tokek berkumpul pada saat ada perlombaan. Menurut Eri, pada saat lomba, tokek yang menjadi peserta bisa sampai 150 ekor. “Biasanya untuk lomba kami sampai membuka hingga 12 kelas. Satu kelas diikuti setidaknya 10 ekor tokek,” imbuh Eri.

Acara perlombaan tokek pakistan seperti ini biasanya juga menjadi ajang memamerkan dagangan masing-masing.

Gunawan berharap dengan adanya forum dan perlombaan ini popularitas tokek pakistan bisa meningkat. Sehingga, pangsa pasar tokek yang memiliki kelopak mata ini bisa lebih lebar lagi.

Kalau bisa, ia berharap pula satu orang memelihara lebih dari satu tokek. Maklum, satu ekor tokek pakistan bisa hidup sampai 20 tahun.

Lantaran berjualan lewat sistem online, Gunawan biasanya menjual tokek dengan menampilkan foto tokek pakistan dagangannya. “Foto jadi penting karena yang dilihat adalah penampilan fisik tokek,” terang Gunawan.

Soal harga jual, Gunawan mematok berdasarkan harga pasaran di forum-forum reptil. Misalnya, ReptileX.com. “Makin banyak produksi tokek yang jenisnya sama maka harga makin turun,” tandasnya. ***

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/tokek-tetap-hoki-meski-tak-bunyi-1/2011/01/03

Tergiur Keuntungan Teman, Terjuni Bisnis Tokek

Oleh Asep Abdullah & Agustinus Ariawan

4 Maret 2012

TOKEK (Gekko gecko) bisa dijual dengan harga fantastis karena konon berkhasiat. Padahal, reptil berkulit yang tertutupi sisik-sisik granular bercampur bintil-bintil dengan jari-jari kaki melebar itu membuat bentuk fisik ’’cecak besar’’ itu menjijikkan. Namun toh banyak orang rela memelihara binatang itu bertahun-tahun. Banyak pula orang mencari tokek dari satu wilayah ke wilayah lain. Maklum, harga seekor tokek berukuran dan berat spesial bisa berjuta-juta.
Itu pula yang mendorong Icuk S, misalnya, menekuni bisnis dan memelihara tokek. Warga Margerejo, Balapan, Surakarta, itu menuturkan ada tokek yang dijual ratusan juta rupiah. Sebagian besar peminat dari kota-kota besar, seperti Surabaya dan Jakarta. Bahkan ada pihak yang menghubungkan dengan calon pembeli dari Malaysia, China, dan Jepang.
“Namun itu tokek dengan ukuran dan berat spesial. Misalnya, seberat 3 ons, 4 ons, dan 5 ons. Berat segitu bisa mencapai ratusan juta rupiah per ekor. Soal khasiatnya, setahu saya selama ini untuk dunia kesehatan karena dianggap bermanfaat luar biasa,” katanya.
Dia sudah bertahun-tahun menggeluti bisnis itu. Dia juga menyatakan pernah memiliki tokek seharga ratusan juta. Karena supermahal untuk satu ekor, dia harus menakar sang pembeli secara jelas. Bisnis itu rawan penipuan karena banyak broker atau makelar tokek yang terlibat.
“Apalagi mencari tokek pun sulit. Tidak setiap saat ada. Bahkan harus kontak-kontak dengan teman lain di luar daerah. Intinya, bisnis itu nyata. Ngapain kalau tidak benar terus saya geluti.”
Totok Subianto, warga asli Boyolali, sudah setahun ini menggeluti bisnis pertokekan. Dia rela mencari tokek ke beberapa daerah di Jawa Timur. Dia memasuki bisnis itu karena rekannya pernah memperoleh keuntungan berupa mobil Avanza dari jerih payah mencarikan tokek.
Dia menuturkan belum lama ini mempunyai calon pembeli dari Negeri Ginseng. “Bisnis sehari-hari makelar tanah, tetapi tokek juga saya geluti. Dari informasi beberapa jaringan saya, harga tokek dengan ukuran dan berat spesial tak hanya ratusan juta. Bahkan bisa miliaran, misalnya, untuk tokek seberat 5 ons dengan panjang 20 cm serta bentuk tubuh proporsional.”
Penjual sekaligus pemelihara tokek ukuran kecil dan besar di Pasar Hewan Depok Surakarta, Joko Widodo, mengutarakan jenis tokek yang dibanderol dengan harga selangit itu adalah tokek pohon. Namun yang menjadi pertaruhan nilai jual adalah berat, panjang, dan bentuk proporsional. Selama ini dia hanya memiliki tokek ukuran standar. Misalnya, antara 1 ons dan 1,5 ons per ekor antara Rp 100.000 dan Rp 200.000. “Padahal, jika ukuran 3 ons saja bisa Rp 100 juta per ekor dan ukuran 4 ons menembus Rp 500 juta per ekor. Itu berarti memang berdasar ukuran dan berat. Namun, sekali lagi, mencarinya sulit,” tutur dia.
Kategori Jamu
Hanya beberapa kali dia mempunyai tokek dengan ukuran dan berat spesial karena harus memelihara bertahun-tahun. Tokek tidak hanya dibesarkan secara alami, tetapi membutuhkan makanan bergizi untuk pertumbuhan. Misalnya, jangkrik, anak tikus, dan multivitamin untuk menambah nafsu makan.
“Namun banyak yang masih memanfaatkan tokek kecil untuk jamu daripada besar tetapi sulit. Mencari pembeli pun tidak mudah, kecuali mempunyai jaringan. Kalau yang kecil-kecil biasanya dikeringkan. Entah untuk jamu apa, saya tak mengetahui. Namun terkadang ada yang membeli juga,” katanya.

Pemanfaatan tokek sebagai obat, menurut penilaian Kepala Bidang Upaya Kesehatan Dinas Kesehatan Kota (DKK) Surakarta, Setyowati, sesuatu yang wajar. Apalagi jika dikaitkan dengan kepercayaan turun-temurun yang dianut sebagian masyarakat bahwa hewan itu berkhasiat bagi kesehatan.

“Mungkin masyarakat percaya beberapa hewan, seperti tokek atau kadal, bisa menghilangkan penyakit tertentu. Lagi pula keyakinan itu kan tumbuh berdasar percobaan-percobaan yang mereka lakukan,” ujar dia.

Namun dari segi medis, perempuan berlatar belakang apoteker itu tak bisa menjamin bahwa mengonsumsi tokek aman bagi kesehatan. Sebab, hingga kini dia belum menemukan literatur atau penelitian ilmiah mengenai hal itu. “Apalagi wewenang Upaya Kesehatan belum menyentuh penggunaan bahan baku (termasuk tokek) dalam obat yang dikonsumsi masyarakat. Kami hanya bisa mengimbau agar masyarakat mengerti seberapa besar manfaat dan efek samping semua obat yang mereka konsumsi. Jangan sampai manfaatnya lebih kecil daripada efek sampingnya,” katanya.

Dia menuturkan selama ini tokek belum ter­klasifikasikan sebagai obat yang dikeluarkan pemerintah. “Yang ada kan hanya kategori jamu, obat herbal terstandar dan fitofarmaka. Jika obat herbal berstandar secara empirik sudah terbukti mengandung bahan berkhasiat dan telah teruji serta fitofarmaka sudah diuji klinis, tokek tetap tak bisa dikategorikan sebagai jamu. Meski dikonsumsi berdasar keyakinan turun-temurun, jamu lebih condong ke produk herbal. Padahal tokek tidak termasuk herbal.” (51)

Sumber:

Untung Besar dari Bisnis Tokek

  • Penerbit: Atma Media Press
  • Penulis: Dian Angga
  • Halaman: 81 hlm
  • ISBN: 978-602-97064-8-2
  • Harga: Rp24.000,00
  • Harga Diskon: Rp19.200,00
Banyak sekali simpang siur informasi tentang bisnis tokek yang beredar di masyarakat. Ada kabar yang memberitakan harga tokek mencapai ratusan juta bahkan miliaran rupiah sehingga membuat seseorang kaya mendadak. Apa itu bener? Kok bisa? Bagaimana caranya? Semua itu adalah pertanyaan-pertanyaan yang selalu beredar di kepala seseorang setelah mendengar tentang bisnis tokek tersebut.

Buku Untung Besar dari Bisnis Tokek ini memberikan jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan di atas. Buku ini antara lain berisi:
  • Cara menggemukkan tokek
  • Cara membuat kandang tokek
  • Lika-liku bisnis tokek
  • Ciri tokek berharga ratusan juta rupiah
  • Cara membudidayakan tokek
  • Cara menangkap dan mencari tokek
Selamat membaca dan mencoba berbisnis tokek, siapa tahu Anda akan menjadi jutawan baru!
 
Sumber:
 

Kaya dari Bisnis Tokek -- Panduan Lengkap Budi Daya Tokek

Seri Peternakan Modern dari Bisnis Tokek by Alex S



Sinopsis
Tokek. Siapa yang tidak kenal dengan hewan Reptil ini. Namanya kian melambung manakala ditemukan tokek dan laku hingga miliyaran rupiah. Akibatnnya, kini orang-orang beramai-ramai berburu menangkap tokek dalam keadaan hidup. Apakah Anda termasuk salah satunya?
Dengan semakin banyak manusia yang memburu tokek, maka persediaan tokek di alam pun akan semakin berkurang. Akhirnnya kini mulai marak orang tertarik untuk memelihara tokek. Memang tokek bisa dipelihara? Tentu bisa. Bahkan tokek bisa di gemukan dengan perawatan tertentu. Dan Anda pun bisa menuai rupiah dengan memelihara tokek ini. Lantas, bagaimana langkah teknis memelihara tokek ini? Buku yang ada dihadapan Anda inilah jawabannya. Di dalam buku ini Anda dapat mengenal hal-hal teknis yang harus dipersiapkan dan dilakukan dalam pemeliharaan tokek. Bahkan pada bab akhir buku ini juga dibahas mengenai cara bertransaksi tokek. Ayo, miliki buku ini dan selamat meraup utung dari tokek.
Details
  • ISBN: 9786029888386
  • Author: Alex S
  • Language: INDONESIA
  • Date Published: 2011
  • Type: SOFT COVER
  • No. of Pages: 134
  • Dimensions (cm): 14x20

Sumber:
http://gramediaonline.com/moreinfo.cfm?Product_ID=763676

Mengapa Bisa 2 Miliar? Buku Pintar Bisnis dan Budi Daya Tokek


  • Kategori (Sub): Teks Non Ekonomi (Peternakan)
  • ISBN: 978-979-29-1799-4
  • Penulis: Davied Hendra
  • Ukuran⁄Halaman: 14x21 cm² ⁄ x+134 halaman
  • Edisi⁄Cetakan: I, 1st Published
  • Tahun Terbit: 2011
  • Berat: 159 gram
  • Harga: Rp 39.900,- Diskon 20%
  • Harga Diskon: Rp 31.920,-

Sinopsis

Buku panduan praktis bisnis dan budi daya tokek berjudul Mengapa Bisa 2 Miliar? Buku Pintar Bisnis dan Budi Daya Tokek ini sangat bermanfaat bagi semua orang yang berencana menangkap tokek, memelihara tokek, menjual tokek, membeli tokek, dan semua yang berkaitan dengan tokek.
Buku ini diharapkan dapat banyak membantu memberi wawasan baru bagaimanan supaya berhasil membudidayakan tokek, berhasil dalam bertransaksi, dan terlebih lagi tidak mudah tertipu oleh mafia tokek karena dibahas juga bagaimana mengenali pembeli atau mediator. ***
Sumber:

Panduan Praktis Budi Daya dan Bisnis Tokek

24 Maret 2010  --  Adi Baskoro

Belakangan ini, tokek menjadi salah satu jenis reptil yang mulai banyak dilirik oleh kalangan masyarakat dan investor. Selain bentuk fisiknya yang unik, tokek juga dipercaya mampu mengobati beragam penyakit, seperti penyakit kulit (gatal-gatal), eksem, asma, bahkan dalam sebuah penelitian tokek mampu mengatasi kanker dan virus HIV/AIDS. Keistimewaan inilah yang menjadikan tokek dijual dengan harga tinggi.

Berawal tahun 1996, ketika isu tentang maraknya tokek mulai merebak, banyak orang yang mulai mencari tokek. Mereka tertarik untuk mencari tokek karena adanya investor asing yang sanggup membeli tokek dengan harga hingga mencapai ratusan juta rupiah. Sungguh harga yang fantastis! Namun, tokek tersebut harus memenuhi beberapa kriteria khusus, seperti beratnya harus di atas 3.5 ons, tidak cacat, dan merupakan jenis tokek rumah atau tokek pohon.

Buku “Dahsyatnya Bisnis Tokek” yang ditulis oleh Ir. Agus Broto Susilo & Purwadaksi Rahmat memaparkannya secara lugas atas pengalamannya berbisnis tokek. Contohnya, ketika penulis memiliki tokek seberat 3.5 ons di Sulawesi dan Solo, berhasil dibeli oleh seorang buyer dengan harga 35 juta rupiah. Itu pun karena ia belum mengetahui harga pasaran tokek. Padahal, sebenarnya tokek seberat itu nilai jualnya ada yang mencapai 1.5 miliar rupiah.

Berawal dari itu, pria kelahiran Solo ini memercayai bisnis ini. Namun kendalanya, sangat sulit menjumpai atau menemukan tokek dengan berat kisaran tersebut. Untungnya, tokek termasuk hewan reptil yang bisa dibesarkan dan dibudidayakan. Dengan cara ini, ia optimis akan dapat menjual kembali tokek dengan harga fantastis. Terbukti hingga kini, ia masih memelihara beberapa ekor tokek rumah untuk dibudidayakan dan dibesarkan.

Sayangnya, teknik membudidayakan tokek belum sepenuhnya dikuasai masyarakat. Maka, melalui buku yang diterbitkan AgroMedia Pustaka ini, penulis mencoba berbagi kiat dan teknik membudidayakan dan membesarkan tokek.

Di dalam buku ini dibahas mulai dari cara tepat menangkap tokek, baik di alam bebas maupun di daerah hunian, teknik pembuatan kandang, pemeliharaan dan perawatan yang meliputi pakan, pencegahan hama serta penyakit, pemberian suplemen untuk menambah bobot tokek, hingga menjaga kondisi tokek. ***


Sumber: